Sedekah Bumi Bertepatan Sehari Sebelum Tujuhbelasan

Hari ini warga Desa Gintung menyelenggarakan tradisi Sedekah Bumi, Rabu, 16 Agustus 2017. Warga yang mencari nafkah dari pertanian sudah mempersiapkan persembahan Sedekah Bumi berupa nasi dan lauk-pauknya yang ditata-rapi di dalam wadah bakul dengan daun pisang digunakan sebagai pembungkusnya. Pukul 13.30 siang, ibu-ibu, remaja putri, dan anak-anak berduyun-duyun membawa persembahan Sedekah Bumi ke Balai Desa. Bakul tersebut dibawa dengan cara diselempangkan menggunakan kain. Sesampainya di Balai Desa mereka berkumpul dan bercengkerama dengan warga lainnya yang juga membuat persembahan Sedekah Bumi.

Acara Sedekah Bumi diselenggarakan di Balai Desa dengan diikuti para undangan dan warga yang bermata-pencaharian dari pertanian. Acara dimulai dengan sambutan dari Bapak Taroji selaku Lebe di Desa Gintung. Beliau mengatakan bahwa acara Sedekah Bumi ini dilaksanakan setahun sekali setiap pasaran Bulan Legena dan harinya jatuh pada Rabu Pon. Yang dimaksud Bulan Legena adalah bulan kosong menuju perayaan Hari Idul Adha. Di dalam kekosongan ini selayaknya diisi dengan ungkapan syukur kepada Tuhan YME dan bagi umat Islam tentunya kepada Allah SWT. Pada sambutan terakhirnya Beliau menggunakan Bahasa Jawa Krama menjelaskan bahwa esensi Sedekah Bumi adalah Bhumi atau Tanah yang selama ini memberi penghidupan sudah sepatutnya disedekahi sebagai wujud syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat dan hasil yang melimpah ruah. Karena jika wujud syukur tersebut tidak dilaksanakan, akan menjadi kesombongan yang tentunya tidak disukai oleh Allah SWT. Bertepatan juga esok hari adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Beliau mengajak untuk mengenang sejarah Kemerdekaan RI dan bahwa Kemerdekaan RI ini harus diisi dengan hal-hal yang baik agar tidak mendapatkan hukuman dari Yang Maha Kuasa.

Sebelum sambutan terakhir oleh Bapak Taroji, sambutan juga diisi oleh Bapak Rijono selaku Kepala Desa Gintung. Menurut Beliau, Sedekah Bumi merupakan tasyakuran yang dilaksanakan sebagai rasa syukur manusia kepada Allah SWT atas kemudahan, keberkahan, dan perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tasyakuran ini juga bertujuan untuk membina rasa syukur atas pertanian dan perdagangan yang dilakukan dalam satu tahun ini dapat berjalan tanpa halangan dan menjadi berkah. Tidak lupa Bapak Kepala Desa juga mengucapkan terima kasih kepada warga Desa Gintung telah berperan dalam nguri-uri atau melestarikan tradisi dan budaya seperti Sedekah Bumi ini. Selain itu Beliau juga turut berterima kasih atas antusias warga dalam program kebersihan, Bumi Merah Putih, dan anjuran memasang lampu hias. Sesuai dengan yang ditekankan oleh Bapak Bupati Pemalang, Bapak H. Junaedi, SH, MH, yaitu menciptakan lingkungan K3 (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan) dan Bumi Merah Putih yaitu memasang bendera, atribut, dan ornamen merah putih pada Gelar Bulan Kemerdekaan ini.

Tradisi Sedekah Bumi ini ditutup dengan menyantap hidangan Sedekah Bumi oleh para undangan. Warga yang ikut dalam tradisi ini berduyun-duyun meninggalkan Balai Desa menuju rumah masing-masing dengan membawa kembali persembahan Sedekah Bumi yang telah mereka bawa.

 

Warga yang bermata-pencaharian dari pertanian membawa persembahan Sedekah Bumi ke Balai Desa Gintung.

 

Warga yang ikutserta dalam tradisi Sedekah Bumi berkumpul di Balai Desa Gintung.

 

Persembahan Sedekah Bumi berupa nasi dan lauk-pauknya.

 

Sambutan dan doa dari Bapak Taroji selaku Lebe Desa Gintung.

 

Sambutan dari Bapak Rijono selaku Kepala Desa Gintung.

 

Doa yang dipimpin oleh Bapak Taroji.

 

Para tamu undangan menikmati hidangan Sedekah Bumi.

 
 

Redaksi : 160817/GTG-CML/01

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak kita. Mari jadikan lingkungan sekolah menyenangkan, aman, nyaman, dan ramah bagi semuanya.

Tinggalkan Balasan